Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mojopurno mengadakan sosialisasi kepada kelompok tani mengenai cara membuat alat pendeteksi kesuburan tanah menggunakan bahan sederhana. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu petani mengetahui kondisi tanah mereka secara cepat dan murah sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kesuburan tanah, petani dapat menerapkan metode yang lebih tepat dalam bercocok tanam dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
Workshop yang diadakan di Balai Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, ini dihadiri oleh GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) setempat. Kepala Desa Mojopurno, H. Suparni, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa KKN . “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kami mendukung penuh program seperti ini untuk pengembangan ekonomi desa khususnya pada petani setempat,” ungkapnya.
Ketua pelaksana, Agun Syahrul Frastyansyah, menjelaskan bahwa workshop ini akan memberikan kontribusi signifikan bagi para petani dalam menilai tingkat kesuburan tanah pada lahan pertanian mereka. Keunggulan alat ini terletak pada kesederhanaan penggunaan dan rendahnya biaya produksi. Dengan alat yang dirancang secara sederhana dan biaya pembuatan yang terjangkau, petani tidak perlu khawatir mengeluarkan banyak biaya untuk memperoleh informasi mengenai kesuburan tanah mereka. Alat ini memberikan peluang bagi petani untuk mengukur tingkat kesuburan tanah pada area yang telah dikelola, sehingga petani dapat lebih efektif dalam mengelola tanah mereka dengan memperhatikan tingkat unsur hara yang tersedia. Dengan KTK menjadi indikator kunci kesuburan tanah, alat ini memberikan metode yang mudah bagi petani untuk menilai kapasitas tanah dalam menahan unsur hara dan kemudian dapat mengadaptasi strategi pemupukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan hasil panen. Dampak positifnya akan terlihat pada hasil panen dan produksi perkebunan yang melimpah, karena petani dapat lebih teliti dalam merawat tanaman dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi tanah yang telah diukur. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan tingkat keberhasilan dan mengurangi risiko gagal panen dalam usaha pertanian.
Materi workshop ini dibawakan oleh Bapak Aloysius Tommy Hendrawan, ST.,MT.,IPP. Dosen Teknik Industri Universitas PGRI Madiun, yang memberikan pelatihan dan materi mengenai kadar PH dan KTK pada tanah. Selain itu, peserta juga diajak untuk mempraktikkan langsung cara pembuatan alat pendeteksi kesuburan tanah, sehingga dapat memahami cara pembuatan serta cara penggunaan secara menyeluruh.
Dalam pembuatan alat ini, digunakan bahan yang mudah ditemukan dan terjangkau, antara lain paralon dengan panjang sekitar 30 cm sebagai pegangan utama, kabel listrik yang akan digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi kelembaban tanah, lampu indikator untuk menunjukkan tingkat kesuburan tanah berdasarkan kelembaban dan kandungan mineral, serta stop kontak sebagai tempat penyambungan kabel dengan sumber listrik. Selain itu, digunakan juga pita isolasi dan solder untuk menyambungkan kabel dengan lampu indikator, serta baterai atau adaptor listrik sebagai sumber daya bagi alat ini. Alat ini bekerja dengan mendeteksi kelembaban dan kandungan mineral dalam tanah melalui konduktivitas listrik yang dihubungkan dengan lampu sebagai indikator. Jika tanah cukup subur, maka lampu akan menyala, menandakan kandungan mineral dan kelembaban yang baik.
Proses pembuatan alat ini dimulai dengan memotong paralon sepanjang 30 cm yang akan dijadikan pegangan utama. Selanjutnya, ujung kabel listrik dikupas beberapa sentimeter dan dipasang pada bagian dalam paralon. Ujung kabel kemudian dihubungkan dengan lampu indikator menggunakan solder, dan sambungan tersebut diisolasi agar lebih kuat dan aman. Setelah itu, kabel lainnya disambungkan ke stop kontak yang nantinya akan dihubungkan dengan sumber listrik. Langkah terakhir adalah memastikan seluruh rangkaian telah terpasang dengan baik dan tidak ada sambungan yang longgar.
Untuk menggunakan alat ini, pertama-tama ujung kabel harus ditanam ke dalam tanah yang ingin diuji. Setelah itu, alat dihubungkan ke sumber listrik melalui stop kontak. Jika lampu indikator menyala terang, itu berarti tanah memiliki kadar air dan mineral yang cukup. Sebaliknya, jika lampu redup atau tidak menyala, itu menunjukkan bahwa tanah kurang subur dan membutuhkan perbaikan dengan pupuk organik atau tambahan bahan lain.

Dengan adanya alat sederhana ini, petani di Desa Mojopurno dapat menghemat biaya dan waktu dalam mengevaluasi kondisi tanah mereka. Dibandingkan dengan metode laboratorium yang mahal dan memakan waktu, alat sederhana ini dapat digunakan secara langsung di lahan pertanian tanpa peralatan tambahan. Selain itu, petani dapat lebih mudah menentukan langkah perbaikan yang dibutuhkan, seperti pemberian pupuk organik, kapur, atau bahan tambahan lain yang sesuai dengan kondisi tanah, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan dapat lebih memahami cara kerja alat sederhana ini dan menggunakannya untuk mendukung kegiatan pertanian mereka. Dengan alat pendeteksi kesuburan tanah ini, petani dapat menentukan perlakuan yang tepat untuk tanah mereka, sehingga hasil panen bisa lebih maksimal dan berkelanjutan. Sosialisasi ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pemanfaatan teknologi sederhana untuk pertanian yang lebih modern dan efisien.