30 January, 2025

[KKN-T UNIPMA KELOMPOK 37 MOJOPURNO] Pengembangan Website Kampung KB BKKBN: Hasil Perkembangbiakan Maggot untuk Industri Perikanan di Desa Mojopurno


Dalam era digitalisasi, keberadaan website desa menjadi salah satu sarana penting untuk menyebarluaskan informasi dan memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat luas. Namun, di Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, website desa mengalami kendala akibat tidak adanya pengelola yang aktif memegang akun website tersebut. Hal ini menyebabkan kurangnya pembaruan informasi yang seharusnya dapat diakses oleh masyarakat setempat.

Melihat permasalahan tersebut, mahasiswa Universitas PGRI Madiun (UNIPMA) yang tengah menjalankan program pengabdian masyarakat memilih opsi untuk mengembangkan website Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) yang dikelola oleh BKKBN sebagai solusi alternatif. Keputusan ini diambil karena perangkat desa yang bertugas di Kampung KB dapat lebih mudah dalam melakukan pembaruan berita dan informasi terkait perkembangan di Desa Mojopurno.

Salah satu fokus utama dalam pengembangan website ini adalah mendukung industri perikanan berbasis maggot yang tengah berkembang di desa tersebut. Maggot, yang berasal dari hasil budidaya lalat Black Soldier Fly (BSF), telah menjadi inovasi dalam penyediaan pakan ikan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Industri perikanan yang mengandalkan maggot sebagai pakan alternatif ini memberikan manfaat besar bagi para peternak ikan di Mojopurno, baik dari segi biaya produksi yang lebih rendah maupun efisiensi pertumbuhan ikan yang lebih optimal.

Dengan adanya website Kampung KB yang diperbarui secara berkala, informasi mengenai hasil perkembangan budidaya maggot dan pemanfaatannya dalam industri perikanan dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat, termasuk para petani dan pelaku usaha perikanan. Selain itu, website ini juga diharapkan dapat menjadi media edukasi serta wadah promosi bagi warga yang ingin mengembangkan budidaya maggot sebagai usaha mandiri.



Melalui kolaborasi antara mahasiswa UNIPMA, perangkat desa, dan masyarakat setempat, diharapkan website Kampung KB Mojopurno tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga menjadi alat pemberdayaan bagi warga dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui inovasi di sektor perikanan. Dengan demikian, pengembangan website ini tidak hanya berfungsi sebagai solusi atas kendala pengelolaan website desa, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat Mojopurno dalam jangka panjang.

29 January, 2025

[KKN-T UNIPMA KELOMPOK 37 MOJOPURNO] PENBUATAN ECOENZYME DAN KOMPOSTER SAMPAH DARI LIMBAH SISA SAYURAN & BUAH-BUAHAN DESA MOJOPURNO, KEC.NGARIBOYO, KAB.MAGETAN.

Desa Mojopurno adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, memiliki potensi besar dalam pengelolaan sampah rumah tangga, terutama sampah sisa makanan dan sayuran. Sampah jenis ini jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah lingkungan seperti bau tidak sedap, pencemaran air dan tanah, serta menjadi sarang penyakit. Namun, dengan inovasi dan kreativitas, sampah sisa makanan dan sayuran dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat melalui pembuatan ecoenzyme dan komposter.

Ecoenzyme adalah cairan hasil fermentasi sampah organik, seperti sisa buah dan sayuran, gula, dan air. Proses pembuatannya cukup sederhana dan murah. Ecoenzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, menjadi produk olahan bermanfaat desa ini. Proses pembuatannya relatif sederhana, hanya membutuhkan molase, air, dan limbah organik yang difermentasi selama 3 bulan. Ecoenzyme yang dihasilkan tidak hanya mengurangi bau tidak sedap dari sampah organik, tetapi juga memiliki beragam manfaat. Warga Mojopurno memanfaatkannya sebagai pembersih rumah tangga alami, pupuk organik cair, bahkan sebagai bahan campuran dalam produk perawatan diri. Proses pembuatannya cukup sederhana yaitu : 1.) Siapkan Wadah: Pilih wadah plastik yang memiliki tutup seperti bekan galon air minum. 2.) Campurkan Bahan: Masukkan limbah organik, gula, dan air ke dalam wadah dengan perbandingan tertentu (misalnya 10:3:1 untuk air:limbah organik:gula). 3.) Aduk dan Fermentasi: Aduk campuran secara rata, lalu tutup wadah dan biarkan selama 3 bulan. Selama proses fermentasi, mikroorganisme akan mengurai limbah organik menjadi cairan ecoenzyme yang kaya manfaat.


( gambar pembuatan ecoenzyme )

Manfaat Ecoenzyme untuk Kehidupan Sehari-hari adalah bisa sebagai Pupuk Organik yaitu Ecoenzyme dapat digunakan sebagai pupuk organik cair untuk menyuburkan tanaman. Kemudian sebagai pembersih Alami yaitu Ecoenzyme dapat digunakan sebagai bahan pembersih alami untuk membersihkan rumah, peralatan dapur, dan lain-lain. Kemudian sebagai Pengusir Hama yaitu Ecoenzyme dapat digunakan sebagai pengusir hama alami untuk melindungi tanaman dari serangan hama. Kemudian sebagai Penjernih Air: Ecoenzyme dapat membantu menjernihkan air dan mengurangi bau tidak sedap.

Selain ecoenzyme, warga Mojopurno juga mengolah sampah organik menjadi kompos. Komposter, baik skala rumah tangga maupun komunal, menjadi alat penting dalam proses ini. Sampah sisa makanan dan sayuran dipilah dan dimasukkan ke dalam komposter untuk diurai menjadi kompos yang kaya nutrisi. Kompos ini kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman di kebun atau ladang, membantu meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Proses pembuatan kompos di Mojopurno melibatkan beberapa tahapan. Pertama, sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik. Kemudian, sampah organik yang telah dipisahkan dimasukkan ke dalam komposter. Untuk mempercepat proses pembusukan, masyarakat biasanya menambahkan aktivator atau mikroorganisme pengurai. Setelah beberapa minggu, sampah organik akan terurai dan berubah menjadi kompos yang siap digunakan.

Pembuatan komposter memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Mojopurno. Selain mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan tanaman. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat bagi petani dan masyarakat yang memiliki kebun atau pekarangan.
Inisiatif pembuatan komposter di Mojopurno mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa dan berbagai pihak terkait. Pelatihan dan sosialisasi secara rutin diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pembuatan komposter. Selain itu, pemerintah desa juga berupaya memfasilitasi pemasaran kompos yang dihasilkan oleh masyarakat.
Meskipun telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, inisiatif ini juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu, upaya edukasi dan sosialisasi terus dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.
Inisiatif pembuatan komposter di desa Mojopurno merupakan contoh sukses dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Dengan memanfaatkan limbah organik menjadi kompos, masyarakat tidak hanya berkontribusi pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk melakukan hal yang serupa.

( contoh pembuatan komposter sampah darilimbah sisa makanan )

Pembuatan ecoenzyme dan komposter dari sampah sisa makanan dan sayuran memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi masalah sampah, kedua produk ini juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Ecoenzyme dapat dijual atau digunakan sendiri sebagai pembersih alami dan pupuk. Kompos dapat digunakan untuk tanaman sendiri atau dijual.

Keberhasilan pengelolaan sampah melalui ecoenzyme dan komposter membutuhkan peran serta aktif dari seluruh masyarakat. Dengan memilah sampah organik dari sampah anorganik, masyarakat dapat membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Selain itu, masyarakat juga dapat belajar membuat ecoenzyme dan komposter secara mandiri

Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam mendukung program pengelolaan sampah melalui ecoenzyme dan komposter. Pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan, sosialisasi, dan bantuan alat kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga dapat membuat kebijakan yang mendukung pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga.

Dengan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah daerah, pengelolaan sampah sisa makanan dan sayuran di Desa Mojopurno dapat dilakukan secara efektif dan berkelanjutan. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat.

( Gambar sosialisasi dan pelatihan pembuatan ecoenzyme dan komposter sampah dari limbah sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan di Desa Mojopurno, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan. )

KKN-T UNIPMA KELOMPOK 37 MOJOPURNO Melakukan Sosialisasi Pembuatan Alat Pendeteksi Kesuburan Tanah Untuk Mengoptimalkan Petani Setempat



Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mojopurno mengadakan sosialisasi kepada kelompok tani mengenai cara membuat alat pendeteksi kesuburan tanah menggunakan bahan sederhana. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu petani mengetahui kondisi tanah mereka secara cepat dan murah sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kesuburan tanah, petani dapat menerapkan metode yang lebih tepat dalam bercocok tanam dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.

Workshop yang diadakan di Balai Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, ini dihadiri oleh GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) setempat. Kepala Desa Mojopurno, H. Suparni, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa KKN . “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kami mendukung penuh program seperti ini untuk pengembangan ekonomi desa khususnya pada petani setempat,” ungkapnya.

Ketua pelaksana, Agun Syahrul Frastyansyah, menjelaskan bahwa workshop ini akan memberikan kontribusi signifikan bagi para petani dalam menilai tingkat kesuburan tanah pada lahan pertanian mereka. Keunggulan alat ini terletak pada kesederhanaan penggunaan dan rendahnya biaya produksi. Dengan alat yang dirancang secara sederhana dan biaya pembuatan yang terjangkau, petani tidak perlu khawatir mengeluarkan banyak biaya untuk memperoleh informasi mengenai kesuburan tanah mereka. Alat ini memberikan peluang bagi petani untuk mengukur tingkat kesuburan tanah pada area yang telah dikelola, sehingga petani dapat lebih efektif dalam mengelola tanah mereka dengan memperhatikan tingkat unsur hara yang tersedia.  Dengan KTK menjadi indikator kunci kesuburan tanah, alat ini memberikan metode yang mudah bagi petani untuk menilai kapasitas tanah dalam menahan unsur hara dan kemudian dapat mengadaptasi strategi pemupukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan hasil panen. Dampak positifnya akan terlihat pada hasil panen dan produksi perkebunan yang melimpah, karena petani dapat lebih teliti dalam merawat tanaman dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi tanah yang telah diukur. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan tingkat keberhasilan dan mengurangi risiko gagal panen dalam usaha pertanian. 



Materi workshop ini  dibawakan oleh Bapak Aloysius Tommy Hendrawan, ST.,MT.,IPP. Dosen Teknik Industri Universitas PGRI Madiun, yang memberikan pelatihan dan materi mengenai  kadar PH dan KTK pada tanah. Selain itu, peserta juga diajak untuk mempraktikkan langsung cara pembuatan alat pendeteksi kesuburan tanah, sehingga dapat memahami  cara pembuatan serta cara penggunaan  secara menyeluruh.

Dalam pembuatan alat ini, digunakan bahan yang mudah ditemukan dan terjangkau, antara lain paralon dengan panjang sekitar 30 cm sebagai pegangan utama, kabel listrik yang akan digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi kelembaban tanah, lampu indikator untuk menunjukkan tingkat kesuburan tanah berdasarkan kelembaban dan kandungan mineral, serta stop kontak sebagai tempat penyambungan kabel dengan sumber listrik. Selain itu, digunakan juga pita isolasi dan solder untuk menyambungkan kabel dengan lampu indikator, serta baterai atau adaptor listrik sebagai sumber daya bagi alat ini. Alat ini bekerja dengan mendeteksi kelembaban dan kandungan mineral dalam tanah melalui konduktivitas listrik yang dihubungkan dengan lampu sebagai indikator. Jika tanah cukup subur, maka lampu akan menyala, menandakan kandungan mineral dan kelembaban yang baik.

Proses pembuatan alat ini dimulai dengan memotong paralon sepanjang 30 cm yang akan dijadikan pegangan utama. Selanjutnya, ujung kabel listrik dikupas beberapa sentimeter dan dipasang pada bagian dalam paralon. Ujung kabel kemudian dihubungkan dengan lampu indikator menggunakan solder, dan sambungan tersebut diisolasi agar lebih kuat dan aman. Setelah itu, kabel lainnya disambungkan ke stop kontak yang nantinya akan dihubungkan dengan sumber listrik. Langkah terakhir adalah memastikan seluruh rangkaian telah terpasang dengan baik dan tidak ada sambungan yang longgar.

Untuk menggunakan alat ini, pertama-tama ujung kabel harus ditanam ke dalam tanah yang ingin diuji. Setelah itu, alat dihubungkan ke sumber listrik melalui stop kontak. Jika lampu indikator menyala terang, itu berarti tanah memiliki kadar air dan mineral yang cukup. Sebaliknya, jika lampu redup atau tidak menyala, itu menunjukkan bahwa tanah kurang subur dan membutuhkan perbaikan dengan pupuk organik atau tambahan bahan lain.



Dengan adanya alat  sederhana ini, petani di Desa Mojopurno dapat menghemat biaya dan waktu dalam mengevaluasi kondisi tanah mereka. Dibandingkan dengan metode laboratorium yang mahal dan memakan waktu, alat sederhana ini dapat digunakan secara langsung di lahan pertanian tanpa peralatan tambahan. Selain itu, petani dapat lebih mudah menentukan langkah perbaikan yang dibutuhkan, seperti pemberian pupuk organik, kapur, atau bahan tambahan lain yang sesuai dengan kondisi tanah, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan dapat lebih memahami cara kerja alat sederhana ini dan menggunakannya untuk mendukung kegiatan pertanian mereka. Dengan alat pendeteksi kesuburan tanah ini, petani dapat menentukan perlakuan yang tepat untuk tanah mereka, sehingga hasil panen bisa lebih maksimal dan berkelanjutan. Sosialisasi ini juga diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pemanfaatan teknologi sederhana untuk pertanian yang lebih modern dan efisien.

[KKN-T UNIPMA KELOMPOK 37 MOJOPURNO] Pengenalan Maggot pada Peternak Lele di Desa Mojopurno: Solusi Pakan Berkelanjutan

    Budidaya ikan lele merupakan salah satu industri budidaya ikan yang cukup digemari di Indonesia, khususnya di Desa Mojopurno Dukuh Puntuk, Magetan, Jawa Timur. Seiring meningkatnya permintaan pasar, banyak peternak mencari cara untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan ikan lele. Salah satu solusi yang semakin mendapat perhatian adalah penggunaan pakan alternatif, khususnya maggot. Maggot, terutama larva BSF (lalat buah hitam), dikenal sangat bergizi dan merupakan  pilihan ideal untuk pakan ternak. 

    Jika berbicara mengenai nilai gizi, maggot memiliki keunggulan besar. Dengan kandungan protein  30-40% dan kandungan lemak kurang lebih 30-35%, maggot memberikan nutrisi yang cukup bagi ikan lele untuk tumbuh maksimal. Pola makan ini sangat penting terutama pada tahap awal pertumbuhan ikan lele, karena kebutuhan proteinnya sangat tinggi. Selain itu, maggot juga mengandung asam amino  yang penting bagi ikan, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas daging ikan lele dan meningkatkan nilai pasarnya. 

    Salah satu aspek yang paling menarik dari penggunaan maggot adalah biaya pakan yang jauh lebih rendah dibandingkan  pakan komersial. Petani ikan lele di Desa Mojopurno dapat mengurangi biaya pakan hingga 50%, yang tentu saja berdampak positif pada profitabilitas peternakan. Dengan menggunakan maggot, petani tidak hanya dapat menghemat uang tetapi juga mendapatkan pakan yang lebih sehat dan bergizi. Selain itu, penggunaan pakan berbahan dasar maggot  membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan ikan yang  harganya kerap berfluktuasi di pasaran. 

    Pada hari Sabtu tanggal 25 Januari 2025, telah dilaksanakan pengenalan Maggot untuk pakan alternatif budidaya peternakan lele yang bertempat di rumah Bapak Arik oleh tim KKN-T PM Kelompok 37 diawali dengan pengenalan maggot dibersamai dengan penyerahan bibit maggot pada salah satu peternak lele. Maggot juga memainkan peran penting dalam pembuangan sampah organik. Proses budidaya belatung dapat dilakukan dengan memanfaatkan sisa makanan, limbah pertanian dan bahan organik lainnya. Dengan cara ini, peternak tidak hanya menghasilkan pakan berkualitas tinggi tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi limbah yang ada. Hal ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan, yang menggunakan semua sumber daya  secara efisien dan ramah lingkungan.

  

    Kesimpulannya, penggunaan maggot sebagai pakan  lele di Mojopurno memiliki potensi  besar untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya dan mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Dengan menggunakan sumber daya yang ada secara efisien, petani dapat memperoleh hasil yang lebih baik dan lebih berkelanjutan. Diharapkan dengan pendidikan dan pelatihan yang tepat,  lebih banyak petani di Modjopurno yang mampu beralih ke pakan berbahan dasar maggot, memperkuat usaha mereka dan berkontribusi terhadap pengembangan sektor perikanan secara keseluruhan.